Archive for the ‘arsitek(tur) tanggap gempa’ Category

Robohnya Joglo Kami

December 29, 2007

Kini lengkap sudah kekhawatiran pencinta tradisi dan penggiat warisan budaya, khususnya arsitektur, tentang keberadaan dan kelestarian bangunan tradisional Jawa. Gempa yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya telah meluluhlantakkan lingkungan binaan, termasuk warisan arsitektur tradisional Jawa.

Bangunan tradisional Jawa yang berbentuk panggangpe, limasan, kampung, joglo, dan tajug banyak yang tak berdaya menghadapi gempa yang kurang dari semenit.

Joglo, yang merupakan mahakarya arsitektur tradisional Jawa, pun banyak yang terjungkal kehilangan pamor-pesona kekuatan dan kestabilan bangunan kayu. Legenda bahwa bangunan joglo tahan gempa telah gugur.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin mahakarya joglo lunglai menghadapi gempa “yang hanya” berkekuatan 5,9 skala Richter. Tulisan ini mencoba meraba apa gerangan yang terjadi. Penelitian yang telah dilakukan penulis (2003) tentang perilaku bangunan tradisional Jawa terhadap gempa membuktikan bahwa joglo tahan goyangan sampai 6 bahkan 7 skala Richter, dengan metode eksperimen terskala di laboratorium.

Banyak faktor yang menyebabkan joglo tanggap gempa. Sengaja digunakan kata tanggap gempa bukan tahan gempa karena bangunan ini sepertinya dapat merespons dan berdialog dengan gaya gempa. Pertama, sistem struktur yang digunakan. Orang menganggap joglo berstruktur rangka karena memang terlihat batang-batang kayu yang disusun membentuk rangka.

Maclaine Pont (1923) dapat melihat lebih jernih bahwa struktur joglo menerapkan sistem tenda atau tarik. Hal ini didasarkan pada sistem dan sifat sambungan kayu yang digunakan (cathokan dan ekor burung), semuanya bersifat mengantisipasi gaya tarik. Tidak berhenti sekadar “fatwa”, Pont membuktikannya pada Gereja Poh Sarang Kediri yang menggunakan sistem struktur tarik dengan bahan baja. Sistem struktur tarik inilah yang membuat joglo bersifat fleksibel sehingga dapat tanggap terhadap gaya-gaya gempa.

Kedua, sistem distribusi beban. Bangunan joglo mempunyai soko guru (tiang utama) 4 buah dan 12 buah soko pengarak. Ruang yang tercipta dari keempat soko guru disebut rong-rongan, yang merupakan struktur inti joglo. Soko-soko guru disatukan oleh balok-balok (blandar-pengeret dan sunduk-kili) dan dihimpun-kakukan oleh susunan kayu yang berbentuk punden berundak terbalik di tepi (tumpangsari) dan berbentuk piramida di tengah (brunjung). Susunan kayu ini bersifat jepit dan menciptakan kekakuan sangat rigid. Soko-soko pengarak di peri-peri dipandang sebagai pendukung struktur inti.

Faktor ketiga adalah sistem tumpuan dan sistem sambungan. Sistem tumpuan bangunan joglo menggunakan umpak yang bersifat sendi. Hal ini untuk mengimbangi perilaku struktur atas yang bersifat jepit. Konfigurasi sendi di bawah dan jepit di atas inilah yang membuat joglo dapat bergoyang seirama dengan guncangan gempa. Sistem sambungannya yang tidak memakai paku, tetapi menggunakan sistem lidah alur, memungkinkan toleransi terhadap gaya-gaya yang bekerja pada batang-batang kayu. Toleransi ini menimbulkan friksi sehingga bangunan dapat akomodatif menerima gaya-gaya gempa.

Pemilihan dan penggunaan bahan bangunan adalah faktor keempat. Penggunaan kayu untuk dinding (gebyok) dan genteng tanah liat untuk atap disebabkan karena material ini bersifat ringan sehingga relatif tidak terlalu membebani bangunan. Pada awalnya penutup atap yang dipakai adalah jerami, daun kelapa, daun tebu, sirap, dan ilalang. Oleh karena merebak penyakit pes, pemerintah kolonial Belanda mengganti penutup atap dengan genteng supaya lebih sehat. Kualitas

Sekarang, walaupun tidak semua, bangunan joglo banyak yang rusak serius bahkan roboh akibat gempa. Mengapa hal ini dapat terjadi? Selain karena besarnya guncangan gempa, faktor kualitas bangunan menjadi penentu rusak tidaknya sebuah bangunan.

Hampir semua joglo yang rusak atau roboh beratapkan genteng tanah liat. Dalam keadaan normal, penutup atap menyumbang beban yang besar terhadap bangunan, apalagi ketika diguncang gempa. Apabila dianalogikan sebuah tubuh, kaki atau umpak dan tubuh atau soko guru tidak kuat menahan atap sebagai kepala bangunan. Ketika terjadi gempa masing-masing komponen bangunan (umpak, soko, dan atap) memiliki perilaku masing-masing dan kesatuannya hanya mengandalkan sambungan-sambungan di antaranya.

Renovasi sebagai respons terhadap kebutuhan dan keinginan pemilik bangunan juga memiliki andil yang besar terhadap kelemahan dan kelabilan joglo ketika gempa datang. Penggantian bahan dinding dari kayu menjadi tembok bata menimbulkan gaya desak ke komponen yang lebih lemah, tembok bata mendesak kayu sehingga bangunan menjadi labil.

Adanya mitos bangunan tradisional tahan gempa menjadikan pengetahuan faktual akan kelemahan struktur menjadi stagnan. Modifikasi bangunan tradisional karena tuntutan perkuatan atau perbaikan menjadi “bid’ah arsitektur” yang banyak dihindari oleh masyarakat. Mereka khawatir dianggap tidak sesuai pakem, merusak warisan budaya, atau mengkhianati tradisi. Justru dalam hal ini diperlukan modifikasi-modifikasi cerdas pada bangunan tradisional sebagai inovasi menghadapi keuzuran bangunan, berubahnya fungsi bangunan atau sekadar penyesuaian kebutuhan penghuni.

Hal terakhir, dan mungkin menjadi muara dari sebab kerusakan bangunan tradisional, adalah perawatan bangunan. Kita (mungkin) dikenal pandai membangun tetapi miskin dalam merawat bangunan, yang menjadikan rayap dan kelembaban menggerogoti kekuatan struktur bangunan.

Sekarang saatnya untuk bukan sekadar peduli, melainkan beraksi taktis dan berpikir strategis guna menyelamatkan warisan budaya. Mulai dari penyadaran pentingnya pusaka ini dilestarikan melalui pendidikan warisan budaya kepada masyarakat. Yang lebih penting lagi hentikan “evakuasi” joglo ke luar dari habitatnya dengan alasan apa pun. Bukankah bunga mawar akan terlihat lebih indah di pohon dibandingkan di pot atau vas bunga?

Walau kita berharap gempa lalu adalah yang terakhir, tetapi kita tidak dapat memastikannya. Yang dapat kita yakini adalah usaha kita untuk mengantisipasi ketika bencana datang.

(di amal jariyahkan melalui KOMPAS edisi Yogyakarta, 23 Agustus 2006 hal. D)

Yulianto P Prihatmaji
Dosen Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Bangunan Tanggap Gempa

December 29, 2007

Sengaja judul tulisan ini adalah bangunan tanggap gempa, earthquake response building bukan bangunan tahan gempa, earthquake resistant building. Walaupun sekilas tampak sama, tetapi ada beberapa prinsip dan perspektif yang membedakan keduanya.

Kata tahan lebih dimaknai bahwa sebuah bangunan dan alam sekitar merupakan dua entitas yang berbeda. Ketika sang alam “berulah” dan menyinggung si bangunan, yang ada adalah menang atau kalah. Tidak ada dialog di antara keduanya, yang ada persiapan, berhadapan, hidup atau mati, bangunan roboh atau tetap berdiri. Maaf, mungkin ini terlalu berlebihan.

Secara harfiah, kata tanggap berarti peduli, nguwongke atau bagaimana satu pihak ngaruhke kepada pihak lain. Di sini tercipta dialog-dialog, interaksi antara bangunan dan alam di mana bangunan itu didirikan. Diharapkan dari dialog ini ada kesepahaman antara keduanya, sehingga dapat saling berdampingan dan bersahabat.

Sekarang masyarakat sedikit demi sedikit telah melek atau peduli bagaimana membangun bangunan yang “peduli gempa” atau paling tidak, berisiko kecil ketika getaran gempa menerpa bangunan. Mungkin ini salah satu dari hikmah bencana yang baru saja berlalu.

Learning from today’s disasters for tomorrow hazards, belajar dari bencana hari ini untuk menghadapi ancaman hari esok. Sesuai dengan kampanye reduksi bencana melalui United Nations-International Strategy for Disaster Reduction atau UN-ISDR yang digaungkan sejak Oktober 2004.

Saat ini, masyarakat mulai bergairah untuk menciptakan lingkungan binaan yang lebih baik. Tempalah besi selagi panas, begitulah kata pepatah. Artinya, mumpung masyarakat sedang mood memperbaiki rumah dan lingkungannya harus kita dukung dengan informasi yang memadai.

Hal ini butuh kesiapan berbagai pihak untuk menyediakan pengetahuan, contoh dan strategi diseminasi tentang bangunan tanggap gempa. Apakah bangunan tanggap gempa itu? Bagaimana cara membangunnya? Berapa biaya yang dibutuhkan? Barangkali pertanyaan tersebut sekarang lagi populer di masyarakat.

Bangunan tanggap gempa merupakan sebuah bangunan yang dapat mengakomodasi gaya gempa yang terjadi, baik gaya vertikal, horizontal, maupun diagonal. Penulis sengaja tidak memberikan contoh- contoh bentuk atau model bangunan tanggap gempa karena khawatir hal ini akan malah menjadi kontraproduktif. Tawaran diskusi akan mengarah kepada prinsip-prinsip bangunan tahan gempa, selanjutnya bentuk dan eksekusi metoda membangun diserahkan kepada masyarakat.

Kita bisa belajar dari rumah-rumah tradisional di Nusantara. Dengan arif masyarakat tradisional memilih dan menggunakan bahan bangunan lokal, sistem struktur konstruksi yang tepat guna dan metode perawatan bangunan. Faktor terakhir inilah yang sering terabaikan sehingga banyak rumah tradisional tidak begitu tangguh dan andal menghadapi bencana seperti gempa bumi. Kita dikenal pandai membangun, tetapi miskin dalam budaya merawat bangunan.

Bangunan yang tanggap gempa cenderung berbentuk denah atau potongan sederhana, artinya condong menggunakan bentuk dasar, kotak, lingkaran, dan sebagainya. Kalaupun ada tambahan ruang, diusahakan terpisah atau merupakan kesatuan dengan bangunan induk. Proporsi bangunan, baik horizontal maupun vertikal juga dipertimbangkan seimbang. Dimensi bangunan yang cenderung besar dapat diperkecil dengan modul-modul yang berulang untuk menjaga kestabilan bangunan. Misalnya, modul ruang menggunakan ukuran 3 x 3 meteran, sehingga bangunan menyerupai kotak-kotak yang disusun.

Modul-modul ini akan berperilaku seragam ketika terkena gaya gempa, sehingga masing-masing modul serempak bergerak ke arah yang sama. Akibatnya, risiko bangunan rusak kecil karena tubrukan perilaku modul dapat diminimalkan.

Prinsip keseimbangan

Bangunan tahan gempa dapat menggunakan bahan bangunan yang bermacam- macam, sesuai bahan yang tersedia di sebuah wilayah. Penggunaan bahan bata, kayu, bambu, atau beton yang mempunyai andil yang sama untuk menciptakan bangunan tanggap gempa. Sekadar untuk panduan, penggunaan bahan disesuaikan dengan karakter bahan.

Prinsip tectonic of the frame and stereotomic of compressive mass dapat diterapkan. Artinya, bahan bangunan yang berkarakter berat cenderung diletakkan di bawah dan bahan bangunan yang bersifat ringan dapat diletakkan di atasnya. Ini adalah prinsip dasar keseimbangan. Penggunaan bahan yang ringan selain mengurangi beban bangunan juga ketika “terpaksa” roboh karena gempa tidak terlalu melukai penghuni atau pengguna bangunan.

Setelah bentuk bangunan dirancang, maka dibangunlah sebuah rumah tanggap gempa. Pastikan bahwa komponen-komponen bangunan lengkap. Kalau dianalogikan dengan manusia lengkap, maka sebuah bangunan harus mempunyai kaki, tubuh, dan kepala. Kaki bangunan adalah fondasi, tubuhnya ialah dinding, termasuk kolom, dan kepalanya merupakan atap (rangka dan penutup atap).

Hal yang krusial adalah tentang sambungan antarkomponen antara fondasi dengan kolom, kolom dengan atap, dan kesatuan antarkolom dengan sloof dan balok cincin (ring balk). Sambungan ini harus benar- benar terkait satu sama lain, untuk memastikan kesatuan bangunan, sehingga bila terjadi gempa dapat stabil. Kemudian sambungan antarelemen, baik menggunakan bahan kayu, bambu, beton atau mungkin baja, agar dipastikan sambungannya terkait erat dan kokoh.

Bentuk bangunan tanggap gempa bukanlah dogma yang harus sama dan seragam. Dengan memberdayakan bahan-bahan lokal, mengajak partisipasi masyarakat, serta adanya pendampingan terhadap teknik dan metode membangun diharapkan tercipta bangunan yang homy, lokal, dan tanggap gempa.

Metode learning by doing mungkin salah satu strategi yang baik untuk diterapkan saat ini untuk diseminasi bangunan tanggap gempa yang melibatkan peran serta masyarakat. Di satu sisi, masyarakat butuh rumah dengan segera, di sisi lain kita tidak ingin kehilangan momen untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat memperbaiki lingkungan binaan mereka dengan aman dan berkelanjutan.

(di amal jariyahkan melalui KOMPAS edisi Yogyakarta, Selasa 11 Juli 2006)

Yulianto P Prihatmaji
Dosen Arsitektur Jurusan Arsitektur
Universitas Islam Indonesia
Yogyakarta

Hunian Sementara Pascagempa

December 29, 2007

Bantuan untuk masyarakat korban gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah seperti gelombang datang silih berganti, baik berupa makanan, obat, pakaian, penerangan, peralatan rumah tangga, maupun tempat naungan sementara di tenda. Di antara bantuan tersebut mungkin hanya temporary shelter, hunian sementara, yang memerlukan pemikiran lebih serius.

Saat ini warga yang kehilangan rumah tinggal di barak pengungsian baik berkelompok maupun individu membikin “bedeng” di sekitar rumahnya atau membangun tenda di jalan-jalan kampung dan bahkan di area kuburan.

Bagi mereka yang rumahnya rata dengan tanah dan tidak mempunyai lahan memilih berkelompok di barak pengungsian atau membuat tenda bersama tetangga yang senasib. Bagi warga yang rumahnya tidak layak huni tetapi masih mempunyai lahan kosong membuat tenda di area itu. Bagi warga yang bagian rumahnya masih memungkinkan dihuni membuat tenda di emperan rumah karena masih trauma (Jawa: tomtomen) dengan gempa yang lalu. Warga yang kurang beruntung seperti keadaan di atas harus membangun hunian sementara mereka di area kosong seperti jalan- jalan kampung atau tegalan atau bahkan area makam.

Ada kecenderungan, warga enggan masuk ke rumah mereka walau secara teknis bangunan mereka layak huni. Selain itu, warga cenderung ingin “menunggui” atau dekat dengan rumahnya walau sudah rata dengan tanah. Ini mungkin sesuai falsafah Jawa sedumuk bathuk senyari bumi.

Keberadaan hunian sementara dibutuhkan ketika masyarakat belum mempunyai lahan yang siap bangun dan biaya. Meski begitu waktu huni untuk temporary shelter pun harus dibatasi, misalnya dua, tiga, atau empat bulan sambil menunggu pembangunan rumah permanen dan wajib memerhatikan beberapa pertimbangan terkait dengan kondisi pascagempa.

Pertama, shelter ini harus dapat disediakan secara cepat dan massal, murah, dan mudah dipasang. Kecepatan dan dapat diproduksi massal menjadi syarat untuk memenuhi emergency response. Murah dalam arti dapat diadakan oleh pemerintah maupun warga sendiri. Mudah dalam pemasangan dan bahan mudah didapat disebabkan terbatasnya tenaga dan keterampilan warga atau relawan.

Kedua, aman atau tahan gempa. Ini sehubungan masih adanya gempa susulan atau angin kencang yang menyertai hujan. Keamanan konstruksi juga dapat dipengaruhi oleh pemilihan bentuk, sistem struktur, dan bahan hunian sementara. Ketika terjadi gempa, hunian sementara dapat tahan terhadap guncangan gempa, atau bila bangunan roboh (materialnya) tidak membahayakan penghuni, misalnya menggunakan bahan-bahan yang ringan (tripleks, seng, dan lain-lain).

Ketiga, harus memenuhi faktor kesehatan, karena dalam kondisi sekarang (pascabencana dan musim hujan) sangat berpotensi menimbulkan masalah-masalah baru seperti penyakit flu dan muntaber. Ini didapat dengan meninggikan bangunan, memperlebar tritisan, dan lain-lain. Selain itu, pencahayaan dan penghawaan di dalam bangunan juga harus memadai.

Keempat, faktor psikologis warga yang masih trauma terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan getaran atau suara gemuruh (gempa). Untuk itu, bangunan secara teknis harus tahan gempa atau dapat meredam getaran yang diakibatkan gempa atau kendaraan yang melintas.

Kelima, yang tak kalah pentingnya adalah faktor perilaku dan adat kebiasaan masyarakat setempat. Kecenderungan warga yang ingin selalu dekat dengan rumahnya walaupun sudah roboh menjadikan hunian sementara harus fleksibel dengan ukuran lahan yang tersedia. Ketika dua kepala keluarga atau lebih menginginkan bergabung menjadi satu bangunan, hunian sementara juga harus dapat meresponsnya dengan baik. Fleksibel

Kelompok dalam masyarakat, misalnya Dasa Wisma, Pokja, atau lainnya, dapat dimanfaatkan untuk membentuk cluster hunian sementara. Ini untuk menyederhanakan penyediaan hunian sementara dan distribusi bantuan.

Dengan kata lain, modul hunian sementara bersifat fleksibel dengan ukuran lahan mempertimbangkan ketersediaan bahan bangunan, dan dapat dibongkar seluruh atau sebagian bahannya yang dapat digunakan untuk membangun hunian permanen.

Ketersediaan pilihan-pilihan desain hunian sementara mendesak untuk diadakan. Institusi pemerintah, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Jurusan Arsitektur, LSM, dan lembaga-lembaga lain yang bergerak di bidang shelter diharapkan berpartisipasi menyediakan desain dan model hunian sementara yang layak, sehat, terjangkau, dan sesuai budaya lokal.

Wilayah Kota Yogyakarta mempunyai lebih kurang 2.500 rukun tetangga (RT), masing-masing RT memiliki rata-rata 40 kepala keluarga (KK). Dari 40 KK ini, taruhlah 20 persen kehilangan rumah, berarti harus disediakan delapan unit modul hunian sementara setiap RT. Artinya, Kota Yogyakarta membutuhkan 20.000 unit modul hunian sementara untuk warga yang kehilangan rumah. Belum lagi kebutuhan hunian sementara di Kabupaten Bantul, Sleman, Kulon Progo, Gunung Kidul, dan wilayah Jawa Tengah lainnya.

Wilayah yang membutuhkan hunian sementara terlampau luas kalau hanya menggunakan satu jenis model hunian sementara. Ketersediaan pilihan desain dan model mutlak diperlukan. Biarlah masyarakat yang menentukan dan membangun hunian sementara, dibantu para relawan. Lembaga-lembaga di atas hanya penyedia dan pendamping kebutuhan masyarakat sehingga masyarakat tidak kehilangan perannya dalam menciptakan lingkungan binaannya, walau hanya sementara.

Hal ini untuk menumbuhkan semangat masyarakat untuk beraktivitas yang sempat redup pascagempa. Yang lebih penting lagi adalah kepastian berapa lama hunian sementara ini akan digunakan karena daya tahan hunian sementara dan masyarakat penggunanya tidak tak terbatas.

(di amal jariyahkan melalui KOMPAS edisi Yogyakarta, Rabu 7 Juni 2006)

Yulianto P Prihatmaji
Jogjateng Archquick Response
LBA UII Yogyakarta