Kini lengkap sudah kekhawatiran pencinta tradisi dan penggiat warisan budaya, khususnya arsitektur, tentang keberadaan dan kelestarian bangunan tradisional Jawa. Gempa yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya telah meluluhlantakkan lingkungan binaan, termasuk warisan arsitektur tradisional Jawa.
Bangunan tradisional Jawa yang berbentuk panggangpe, limasan, kampung, joglo, dan tajug banyak yang tak berdaya menghadapi gempa yang kurang dari semenit.
Joglo, yang merupakan mahakarya arsitektur tradisional Jawa, pun banyak yang terjungkal kehilangan pamor-pesona kekuatan dan kestabilan bangunan kayu. Legenda bahwa bangunan joglo tahan gempa telah gugur.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin mahakarya joglo lunglai menghadapi gempa “yang hanya” berkekuatan 5,9 skala Richter. Tulisan ini mencoba meraba apa gerangan yang terjadi. Penelitian yang telah dilakukan penulis (2003) tentang perilaku bangunan tradisional Jawa terhadap gempa membuktikan bahwa joglo tahan goyangan sampai 6 bahkan 7 skala Richter, dengan metode eksperimen terskala di laboratorium.
Banyak faktor yang menyebabkan joglo tanggap gempa. Sengaja digunakan kata tanggap gempa bukan tahan gempa karena bangunan ini sepertinya dapat merespons dan berdialog dengan gaya gempa. Pertama, sistem struktur yang digunakan. Orang menganggap joglo berstruktur rangka karena memang terlihat batang-batang kayu yang disusun membentuk rangka.
Maclaine Pont (1923) dapat melihat lebih jernih bahwa struktur joglo menerapkan sistem tenda atau tarik. Hal ini didasarkan pada sistem dan sifat sambungan kayu yang digunakan (cathokan dan ekor burung), semuanya bersifat mengantisipasi gaya tarik. Tidak berhenti sekadar “fatwa”, Pont membuktikannya pada Gereja Poh Sarang Kediri yang menggunakan sistem struktur tarik dengan bahan baja. Sistem struktur tarik inilah yang membuat joglo bersifat fleksibel sehingga dapat tanggap terhadap gaya-gaya gempa.
Kedua, sistem distribusi beban. Bangunan joglo mempunyai soko guru (tiang utama) 4 buah dan 12 buah soko pengarak. Ruang yang tercipta dari keempat soko guru disebut rong-rongan, yang merupakan struktur inti joglo. Soko-soko guru disatukan oleh balok-balok (blandar-pengeret dan sunduk-kili) dan dihimpun-kakukan oleh susunan kayu yang berbentuk punden berundak terbalik di tepi (tumpangsari) dan berbentuk piramida di tengah (brunjung). Susunan kayu ini bersifat jepit dan menciptakan kekakuan sangat rigid. Soko-soko pengarak di peri-peri dipandang sebagai pendukung struktur inti.
Faktor ketiga adalah sistem tumpuan dan sistem sambungan. Sistem tumpuan bangunan joglo menggunakan umpak yang bersifat sendi. Hal ini untuk mengimbangi perilaku struktur atas yang bersifat jepit. Konfigurasi sendi di bawah dan jepit di atas inilah yang membuat joglo dapat bergoyang seirama dengan guncangan gempa. Sistem sambungannya yang tidak memakai paku, tetapi menggunakan sistem lidah alur, memungkinkan toleransi terhadap gaya-gaya yang bekerja pada batang-batang kayu. Toleransi ini menimbulkan friksi sehingga bangunan dapat akomodatif menerima gaya-gaya gempa.
Pemilihan dan penggunaan bahan bangunan adalah faktor keempat. Penggunaan kayu untuk dinding (gebyok) dan genteng tanah liat untuk atap disebabkan karena material ini bersifat ringan sehingga relatif tidak terlalu membebani bangunan. Pada awalnya penutup atap yang dipakai adalah jerami, daun kelapa, daun tebu, sirap, dan ilalang. Oleh karena merebak penyakit pes, pemerintah kolonial Belanda mengganti penutup atap dengan genteng supaya lebih sehat. Kualitas
Sekarang, walaupun tidak semua, bangunan joglo banyak yang rusak serius bahkan roboh akibat gempa. Mengapa hal ini dapat terjadi? Selain karena besarnya guncangan gempa, faktor kualitas bangunan menjadi penentu rusak tidaknya sebuah bangunan.
Hampir semua joglo yang rusak atau roboh beratapkan genteng tanah liat. Dalam keadaan normal, penutup atap menyumbang beban yang besar terhadap bangunan, apalagi ketika diguncang gempa. Apabila dianalogikan sebuah tubuh, kaki atau umpak dan tubuh atau soko guru tidak kuat menahan atap sebagai kepala bangunan. Ketika terjadi gempa masing-masing komponen bangunan (umpak, soko, dan atap) memiliki perilaku masing-masing dan kesatuannya hanya mengandalkan sambungan-sambungan di antaranya.
Renovasi sebagai respons terhadap kebutuhan dan keinginan pemilik bangunan juga memiliki andil yang besar terhadap kelemahan dan kelabilan joglo ketika gempa datang. Penggantian bahan dinding dari kayu menjadi tembok bata menimbulkan gaya desak ke komponen yang lebih lemah, tembok bata mendesak kayu sehingga bangunan menjadi labil.
Adanya mitos bangunan tradisional tahan gempa menjadikan pengetahuan faktual akan kelemahan struktur menjadi stagnan. Modifikasi bangunan tradisional karena tuntutan perkuatan atau perbaikan menjadi “bid’ah arsitektur” yang banyak dihindari oleh masyarakat. Mereka khawatir dianggap tidak sesuai pakem, merusak warisan budaya, atau mengkhianati tradisi. Justru dalam hal ini diperlukan modifikasi-modifikasi cerdas pada bangunan tradisional sebagai inovasi menghadapi keuzuran bangunan, berubahnya fungsi bangunan atau sekadar penyesuaian kebutuhan penghuni.
Hal terakhir, dan mungkin menjadi muara dari sebab kerusakan bangunan tradisional, adalah perawatan bangunan. Kita (mungkin) dikenal pandai membangun tetapi miskin dalam merawat bangunan, yang menjadikan rayap dan kelembaban menggerogoti kekuatan struktur bangunan.
Sekarang saatnya untuk bukan sekadar peduli, melainkan beraksi taktis dan berpikir strategis guna menyelamatkan warisan budaya. Mulai dari penyadaran pentingnya pusaka ini dilestarikan melalui pendidikan warisan budaya kepada masyarakat. Yang lebih penting lagi hentikan “evakuasi” joglo ke luar dari habitatnya dengan alasan apa pun. Bukankah bunga mawar akan terlihat lebih indah di pohon dibandingkan di pot atau vas bunga?
Walau kita berharap gempa lalu adalah yang terakhir, tetapi kita tidak dapat memastikannya. Yang dapat kita yakini adalah usaha kita untuk mengantisipasi ketika bencana datang.
(di amal jariyahkan melalui KOMPAS edisi Yogyakarta, 23 Agustus 2006 hal. D)
Yulianto P Prihatmaji
Dosen Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia Yogyakarta