Kota-kota besar di Indonesia sudah mengeluh tentang sampah, bahkan Jakarta dan Bandung bukan hanya kewalahan menghadapi sampah tetapi sudah pada taraf weleh-weleh. Sampah yang dimaksud di sini adalah sampah padat, belum lagi yang bersifat cair atau gas. Sampah bukan lagi sebagai barang buangan tetapi sudah menjadi “hiasan” kota. Bagaimana dengan Kota Yogyakarta?
Dengan jumlah penduduk mencapai 521.499 jiwa yang terpumpun dalam 107.919 kepala keluarga (2006), Yogyakarta menghasilkan sampah 1.724 meter kubik per hari. Kalau dirata-rata per kepala keluarga (lima jiwa) menghasilkan sampah 15,75 liter per hari, dan memang penyumbang terbesar sampah adalah dari rumah tangga.
Yogyakarta hanya mempunyai tempat pembuangan akhir (TPA) satu buah, yaitu di TPA Piyungan (2001). Dengan luas 12 hektar, TPA tersebut dapat menampung sampah 2,7 juta meter kubik untuk masa penggunaan 10 tahun dengan asumsi persentase daur ulang 20 persen. Diharapkan sampah akan terurai dengan sistem sanitary landfill ditimbun tanah dan (sebagian) dibakar. Asap pembakaran pun akan menimbulkan gas karbon dioksida yang mengganggu pernapasan dan penglihatan. Tetapi, apakah cara primitif ini masih akan kita lestarikan?
Dengan hanya dibuang begitu saja, sampah yang bercampur (plastik, logam, kaca, kayu, kemasan produk, sayuran, dan lain-lain) akan sulit terurai atau ratusan tahun. Kalau sampah plastik dan kemasan snack akan terurai ratusan tahun, sampah logam bisa terurai puluhan tahun, sampah kayu, bambu, dan lain-lain beberapa bulan, dan sampah sayuran beberapa minggu. Mungkin sampai waktu gantung siwur (Jawa: cucu cicit kita) sampah yang kita buang baru terurai. Barangkali pikir mereka, alangkah hebatnya moyangnya mewariskan “hiasan kota” bagi kehidupan mereka.
Itu baru waktu kira-kira urai sampah saja (yang dalam kenyataannya mungkin lebih lama), belum lagi “limbah baru” yang ditimbulkan sampah bercampur tersebut. Limbah baru tersebut berupa cairan dari air hujan yang bercampur dengan sampah dan bau yang ditimbulkannya. Tentu saja cairan tersebut bukan hanya menjadi B3, bahan berbahaya beracun, tetapi bahan bikin binasa banget (B4). Belum lagi bau yang bikin mual muntah, yang dalam waktu tertentu membikin kita pusing, bahkan pingsan.
Menurut penelitian, kalau terjadi penetrasi cairan tersebut ke sumber air dan airnya dimanfaatkan oleh manusia, maka menyebabkan ganguan pencernaan dan penyakit lain. Walaupun lokasi TPA sudah diperhitungkan jaraknya dengan permukiman “umum”, tetapi apakah permukiman “khusus” pemulung tidak dianggap? Toh mereka juga manusia seperti manusia yang tinggal di permukiman “umum” itu, atau kita bisa mengatakan “ya, itu sudah risiko”.
Sampah tidak bisa kita hindari dalam kehidupan kita. Tetapi, kita bisa belajar dari alam. Tidak satu pun bahan di alam yang tak terurai, sekeras apa pun dia. Atau kalau tidak terdaur ulang, bahan tersebut tidak menimbulkan dampak lingkungan apalagi membahayakan kehidupan makhluk hidup.
Mengganti (replace), mengurangi (reduce), memakai kembali (re- use), dan mendaur ulang (recycle) adalah strategi untuk menghadapi sampah. Untuk aksi tindaknya, pertama adalah mengurangi sampah sekecil apa pun. Hal ini terkait dengan budaya belanja kita. Sebagai contoh, ketika berbelanja, usahakan membawa tas belanjaan dari rumah yang bisa dipakai berulang. Jangan meminta tas belanja (kresek) apalagi sejumlah barang belanjaan kita kalau tidak terpaksa (barang yang butuh wadah berbeda). Makin kecil
Yang perlu kita waspadai adalah kemasan produk snack makanan, minuman, sabun, sampo, dan lain-lain. Strategi pemasaran produk tersebut menciptakan volume-volume yang kemedol (marketable) yang berakibat ukuran kemasan kecil-kecil (sachet-an). Semakin kecil kemasan produk semakin susah mengelola sampahnya.
Kedua, memisahkan sampah. Hal ini juga masih terkait budaya kita. Mungkin sebagai pemula, memisahkan menjadi dua jenis sampah dulu, yaitu organik dan anorganik. Baru dilanjutkan dipisahkan berdasar sifat bahan, logam, plastik, kertas, alami, kaca, dan kain. Hal ini untuk memudahkan pengolahan sampah untuk didaur ulang.
Walaupun Pemerintah Kota Yogyakarta sudah meletakkan tempat sampah di tempat-tempat publik, tetapi barangkali lebih efektif dimulai dari rumah tangga dulu. Bukankah bangsa yang besar berawal dari keluarga, apalagi hanya sebuah kota. Yang perlu kita lakukan segera adalah menyediakan dua wadah sampah di dapur kita, satu untuk sayuran satu untuk nonsayuran.
Ketiga diseminasi, lagi-lagi ini masalah budaya. Pembelajaran tentang sampah perlu dilakukan sejak pendidikan dini usia dengan teladan orang tua (rumah), guru (sekolah), dan lingkungannya. Barangkali slogan yang ditiupkan di hati anak sederhana saja, “aku datang bersih dan aku pulang juga bersih”. Kalau sudah beranjak remaja atau tua jangan berharap akan berubah karena sudah (maaf) ngakik.
Keempat teknologi daur ulang sampah. Menggunakan incinerator (pembakaran dengan panas tinggi) mungkin bukan pilihan terbaik mengingat pengadaan dan pengoperasiannya relatif mahal, belum lagi kemampuan sumber daya manusia (SDM) kita. Barangkali teknologi daur ulang yang tepat guna dan padat karya merupakan pilihan terbaik menimbang jumlah dan rerata kemampuan SDM kita juga.
Sampah organik dikumpulkan di komposter (tong, bak, atau drum) dicampur tanah dan dibiarkan beberapa waktu akan menjadi kompos untuk pupuk tanaman kita. Jangan biarkan sejengkal tanah kita (horizontal) tidak ada tanamannya, bahkan kalau perlu tembok kita tanami juga (vertikal).
Kalau kita belum bisa mengolah sampah nonorganik, serahkan saja pada “laskar mandiri”, pasti mereka bersuka hati menerima “sedekah” kita. Di gerbang kampung atau desa sudah tidak perlu plang Pemulung Dilarang Masuk, tetapi diganti Pemulung Silakan Duduk untuk negosiasi harga sampah. Sebuah tawaran menarik untuk ibu yang berkarier di rumah tangga.
(di amal jariyahkan melalui KOMPAS edisi Yogyakarta, Selasa 30 Oktober 2007 hal. D)
Yulianto P Prihatmaji
Pendidik di Jurusan Arsitektur
Universitas Islam Indonesia
Yogyakarta