Bangunan Tanggap Gempa

By prihatmaji

Sengaja judul tulisan ini adalah bangunan tanggap gempa, earthquake response building bukan bangunan tahan gempa, earthquake resistant building. Walaupun sekilas tampak sama, tetapi ada beberapa prinsip dan perspektif yang membedakan keduanya.

Kata tahan lebih dimaknai bahwa sebuah bangunan dan alam sekitar merupakan dua entitas yang berbeda. Ketika sang alam “berulah” dan menyinggung si bangunan, yang ada adalah menang atau kalah. Tidak ada dialog di antara keduanya, yang ada persiapan, berhadapan, hidup atau mati, bangunan roboh atau tetap berdiri. Maaf, mungkin ini terlalu berlebihan.

Secara harfiah, kata tanggap berarti peduli, nguwongke atau bagaimana satu pihak ngaruhke kepada pihak lain. Di sini tercipta dialog-dialog, interaksi antara bangunan dan alam di mana bangunan itu didirikan. Diharapkan dari dialog ini ada kesepahaman antara keduanya, sehingga dapat saling berdampingan dan bersahabat.

Sekarang masyarakat sedikit demi sedikit telah melek atau peduli bagaimana membangun bangunan yang “peduli gempa” atau paling tidak, berisiko kecil ketika getaran gempa menerpa bangunan. Mungkin ini salah satu dari hikmah bencana yang baru saja berlalu.

Learning from today’s disasters for tomorrow hazards, belajar dari bencana hari ini untuk menghadapi ancaman hari esok. Sesuai dengan kampanye reduksi bencana melalui United Nations-International Strategy for Disaster Reduction atau UN-ISDR yang digaungkan sejak Oktober 2004.

Saat ini, masyarakat mulai bergairah untuk menciptakan lingkungan binaan yang lebih baik. Tempalah besi selagi panas, begitulah kata pepatah. Artinya, mumpung masyarakat sedang mood memperbaiki rumah dan lingkungannya harus kita dukung dengan informasi yang memadai.

Hal ini butuh kesiapan berbagai pihak untuk menyediakan pengetahuan, contoh dan strategi diseminasi tentang bangunan tanggap gempa. Apakah bangunan tanggap gempa itu? Bagaimana cara membangunnya? Berapa biaya yang dibutuhkan? Barangkali pertanyaan tersebut sekarang lagi populer di masyarakat.

Bangunan tanggap gempa merupakan sebuah bangunan yang dapat mengakomodasi gaya gempa yang terjadi, baik gaya vertikal, horizontal, maupun diagonal. Penulis sengaja tidak memberikan contoh- contoh bentuk atau model bangunan tanggap gempa karena khawatir hal ini akan malah menjadi kontraproduktif. Tawaran diskusi akan mengarah kepada prinsip-prinsip bangunan tahan gempa, selanjutnya bentuk dan eksekusi metoda membangun diserahkan kepada masyarakat.

Kita bisa belajar dari rumah-rumah tradisional di Nusantara. Dengan arif masyarakat tradisional memilih dan menggunakan bahan bangunan lokal, sistem struktur konstruksi yang tepat guna dan metode perawatan bangunan. Faktor terakhir inilah yang sering terabaikan sehingga banyak rumah tradisional tidak begitu tangguh dan andal menghadapi bencana seperti gempa bumi. Kita dikenal pandai membangun, tetapi miskin dalam budaya merawat bangunan.

Bangunan yang tanggap gempa cenderung berbentuk denah atau potongan sederhana, artinya condong menggunakan bentuk dasar, kotak, lingkaran, dan sebagainya. Kalaupun ada tambahan ruang, diusahakan terpisah atau merupakan kesatuan dengan bangunan induk. Proporsi bangunan, baik horizontal maupun vertikal juga dipertimbangkan seimbang. Dimensi bangunan yang cenderung besar dapat diperkecil dengan modul-modul yang berulang untuk menjaga kestabilan bangunan. Misalnya, modul ruang menggunakan ukuran 3 x 3 meteran, sehingga bangunan menyerupai kotak-kotak yang disusun.

Modul-modul ini akan berperilaku seragam ketika terkena gaya gempa, sehingga masing-masing modul serempak bergerak ke arah yang sama. Akibatnya, risiko bangunan rusak kecil karena tubrukan perilaku modul dapat diminimalkan.

Prinsip keseimbangan

Bangunan tahan gempa dapat menggunakan bahan bangunan yang bermacam- macam, sesuai bahan yang tersedia di sebuah wilayah. Penggunaan bahan bata, kayu, bambu, atau beton yang mempunyai andil yang sama untuk menciptakan bangunan tanggap gempa. Sekadar untuk panduan, penggunaan bahan disesuaikan dengan karakter bahan.

Prinsip tectonic of the frame and stereotomic of compressive mass dapat diterapkan. Artinya, bahan bangunan yang berkarakter berat cenderung diletakkan di bawah dan bahan bangunan yang bersifat ringan dapat diletakkan di atasnya. Ini adalah prinsip dasar keseimbangan. Penggunaan bahan yang ringan selain mengurangi beban bangunan juga ketika “terpaksa” roboh karena gempa tidak terlalu melukai penghuni atau pengguna bangunan.

Setelah bentuk bangunan dirancang, maka dibangunlah sebuah rumah tanggap gempa. Pastikan bahwa komponen-komponen bangunan lengkap. Kalau dianalogikan dengan manusia lengkap, maka sebuah bangunan harus mempunyai kaki, tubuh, dan kepala. Kaki bangunan adalah fondasi, tubuhnya ialah dinding, termasuk kolom, dan kepalanya merupakan atap (rangka dan penutup atap).

Hal yang krusial adalah tentang sambungan antarkomponen antara fondasi dengan kolom, kolom dengan atap, dan kesatuan antarkolom dengan sloof dan balok cincin (ring balk). Sambungan ini harus benar- benar terkait satu sama lain, untuk memastikan kesatuan bangunan, sehingga bila terjadi gempa dapat stabil. Kemudian sambungan antarelemen, baik menggunakan bahan kayu, bambu, beton atau mungkin baja, agar dipastikan sambungannya terkait erat dan kokoh.

Bentuk bangunan tanggap gempa bukanlah dogma yang harus sama dan seragam. Dengan memberdayakan bahan-bahan lokal, mengajak partisipasi masyarakat, serta adanya pendampingan terhadap teknik dan metode membangun diharapkan tercipta bangunan yang homy, lokal, dan tanggap gempa.

Metode learning by doing mungkin salah satu strategi yang baik untuk diterapkan saat ini untuk diseminasi bangunan tanggap gempa yang melibatkan peran serta masyarakat. Di satu sisi, masyarakat butuh rumah dengan segera, di sisi lain kita tidak ingin kehilangan momen untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat memperbaiki lingkungan binaan mereka dengan aman dan berkelanjutan.

(di amal jariyahkan melalui KOMPAS edisi Yogyakarta, Selasa 11 Juli 2006)

Yulianto P Prihatmaji
Dosen Arsitektur Jurusan Arsitektur
Universitas Islam Indonesia
Yogyakarta

Leave a Reply